Rembang, Pemerintah Kabupaten Rembang menggelar Rembug Stunting 2021 di lantai IV Kantor Bupati Rembang, (10/6/21). Kegiatan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat ini memiliki tema strategi pencegahan dan penanggulangan stunting di Kabupaten Rembang tahun 2021. Diharapkan penanganan stunting melalui kegiatan ini bisa lebih efisien.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Rembang, Ali Syofi’i mengatakan dengan adanya pandemi Covid-19, menjadikan angka kasus stunting meningkat. Hal itu berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 kasus stunting sebesar 32 persen dari jumlah anak lahir, tahun 2018 menurun menjadi 26 persen, di tahun 2019 menurun menjadi 22,9 persen, di tahun 2020 meningkat menjadi 24,97 persen.

Ali Syofi’i mengatakan permasalahan-permasalahan yang memicu kenaikan stunting diantaranya adanya pandemi Covid-19.

Upaya-upaya yang dilakukan oleh Pemkab Rembang untuk menekan tingginya kasus stunting yaitu pelayanan Antenatal Care (ANC) yang semula 4 kali menjadi 6 kali pemeriksaan ibu hamil, membagi dokter ahli menjadi dokter binaan kecamatan dan perbaikan akses sanitasi dengan air bersih.

Selain itu upaya yang dilakukan oleh Pemkab Rembang untuk menekan stunting menurut Ali Syofi’i yaitu membuat lokus desa stunting di Kabupaten Rembang di 27 Desa tersebar di 10 Kecamatan meliputi 11 puskesmas.

Gambar. Kepala Bappeda, Ir. Dwi Wahyuni, MM. menandatangani nota komitmen untuk menurunkan angka stunting di Rembang

Diacara yang sama, Kepala Bappeda Rembang mengatakan sesuai dengan informasi Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), memastikan 514 Kabupaten/Kota di Indonesia menjadi Lokasi Fokus (Lokus) Intervensi Penurunan Stunting Terintegrasi Tahun 2022. Kabupaten Rembang menjadi salah satu Kabupaten yang menjadi Lokus intervensi Penurunan Stunting.

Sementara itu Bupati Rembang H.Abdul Hafidz mengharapkan sinergi banyak pihak untuk mengatasi stunting, tidak bisa dibebankan kepada Dinas Kesehatan saja. Pihaknya menyampaikan terimakasih kepada sejumlah pihak yang ke depan akan bersinergi untuk penanganan stunting, baik dari Organisasi Perangkat Daerah selain DKK, lembaga keagamaan, organisasi perempuan dan dunia usaha.

Bagi anda yang belum tahu, stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. (RBR/MK)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *