BAPPEDA REMBANG – Bappeda Rembang melakukan kunjungan ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Rembang untuk study desalinasi air, Kamis (6/1) belum lama ini. Kegiatan ini sebagai salah satu usaha untuk perencenaan pemenuhan air baku di Kabupaten Rembang.

Kunjungan ini dilakukan oleh Kepala Bappeda Rembang, Dwi Wahyuni Hariyati didampingi Kepala Bidang Infrastruktur, Kewilayahan dan Sumber Daya Alam, Ali Sahid dan Kasub Koordinator Kelompok Fungsi Infrastruktur, Nilta Rahmah.

Kepala Bappeda Rembang, Dwi Wahyuni mengatakan masalah air baku masih menjadi perhatian khusus di Rembang. Pasalnya di Rembang termasuk daerah yang minim hujan dan tidak dilewati sungai besar.

Pihaknya mengakui, di Rembang akan dibangun beberapa bendungan. Namun dirasa kurang cukup untuk pemenuhan air baku di Rembang. Salah satu usaha yang dilakukan adalah study tentang pemanfaatan air laut yang diubah menjadi air tawar untuk penyediaan bahan baku air bersih di Rembang.

“Apalagi Rembang akan dijadikan sebagai daerah industri dan perusahan. Pastinya jika ada infestor yang ditanya pertama kali adalah soal air. Ini harus kita siapkan”, katanya.

Sementara itu Generel Manager (GM) PT PJB UBJOM PLTU Rembang, Kurniawan Dwi Hananto mengatakan disalinasi dipergunakan untuk memproduksi air dengan memanaskan air laut menggunakan media uap. Pembangkit Jawa Bali (PJB) PLTU Rembang mengaku siap jika diminta untuk melayani masyarakat dengan beberapa pelayanan selain pemasokan aliran listrik.

Disisi lain, desalinasi atau pengawagaraman adalah proses yang menghilangkan kadar garam berlebih dalam air untuk mendapatkan air yang dapat dikonsumsi binatang, tanaman dan manusia. Sering kali proses ini juga menghasilkan garam dapur sebagai hasil sampingan. Dua metode yang paling banyak digunakan adalah Reverse Osmosis (47,2%) dan Multi Stage Flash (36,5%). (MK)