BAPPEDA REMBANG – Program Gerakan Ayo Sekolah 12 tahun (GAS Pol 12) Pemkab Rembang akan menuntaskan penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) pada tahun 2022.  Sebelumnya, 28 anak sudah dituntaskan pada tahun 2021. Rencananya untuk tahun ini akan mengembalikan 33 ATS bersekolah lagi.

Jumlah ini diperoleh ketika Workshop Rekonfirmasi Data dan Pengembangan Dokumen Perencanaan Pendidikan Desa Berbasis Data Sistem Informasi Pembangunan Berbasis Masyarakat (SIPBM) pada 4 desa pilot project kerjasama Unicef, LPPM ITB Semarang dan Pemkab Rembang yang dilaksanakan di Aula Bappeda Rembang, Senin (10/1/22) pagi.

Kabid Pemerintahan dan Pembangunan Manusia (PPM) Bappeda Rembang, Sigit Purwanto mengatakan saat ini perencanaan untuk tahun 2023 sudah mulai berjalan. Pihaknya berharap perencanaan di desa pilot project bisa diintegrasikan dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan juga Pemkab Rembang.

Perwakilan Unicef Wilayah Jawa Bali, Supriono Subakir mengatakan kegiatan rekonfirmasi ini merupakan lanjutan penanganan ATS dengan nama GAS Pol 12 yang sebelumnya sudah melakukan pendataan.

“Hari ini kita untuk rekonfirmasi data yang sudah diinput tim pendata desa melalui aplikasi SIPBM untuk memastikan kebenaran data, apakah data ATS sudah sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan atau tidak. Rekonfirmasi data ini sangat penting untuk membuat pengembangan dokumen perencanaan pendidikan yang ada di desa. Nantinya data ini dapat juga digunakan untuk penyaluran ketika ada penanganan ATS. Data yang ada ini lengkap namun bersifat dinamis, kita akan memfasilitasi menjadi lebih baik. Rekonfirmasi data ini kita lakukan karena langkanya perencanaan ditingkat desa sampai kabupaten”, jelasnya.

Semantara Ketua Forum Masyarakat Peduli Pendidikan (FMPP) Kabupaten Brebes, Bahrul Ulum menjelaskan data SPIBM merupakan data mikro yang berbasis data kecil tetapi lengkap. “Anak yang sudah sekolah juga berpotensi untuk putus sekolah. Sehingga kita harus merencanakan bagaimana cara mengatasi ini,” katanya.

Person In Charge (PIC) Program, Abdul Baasitd mengatakan kegiatan atas kerjasama Pemkab dengan Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) Semarang serta Unicef ini melibatkan empat desa pilot project yaitu Desa Sridadi Kecamatan Rembang, Desa, Jeruk Kecamatan Pancur, Desa Sidorejo Kecamatan Pamotan dan Desa Mojosari Kecamatan Sedan.

“Walaupun sementara hanya empat desa di Rembang. Harapan kami bisa diteruskan oleh Pemkab untuk mereplikasi desa-desa lainnya.

Pihaknya menjelaskan, untuk tahun 2021 telah mengembalikan 28 ATS diantaranya 8 anak dari Desa Sridadi, 10 anak dari Desa Mojosari, 2 dari Desa Sidorejo Pamotan dan 8 anak di luar empat desa pilot project. Sementara itu, untuk tahun 2022 akan mengembalikan 33 ATS yaitu 16 anak asal Desa Mojosari, 11 dari Desa Jeruk, 3 dari Desa Sidorejo dan 3 dari Desa Sridadi. (MK/SP)